SUMENEP, pekaaksara.com — Temuan kualitas makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga dikelola Yayasan Rizqi Haqiqi memantik perhatian publik. Pihak penyelenggara pun angkat bicara.
Kepala SPPG Yayasan Rizqi Haqiqi Campaka, Diaz An Eby, mengakui bahwa sebagian nasi yang didistribusikan kepada siswa berada dalam kondisi hampir basi.
Ia menegaskan, temuan tersebut tidak terjadi secara menyeluruh.
“Tidak semuanya, hanya sebagian saja,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Menurut Diaz, kondisi nasi saat awal pengemasan sebenarnya masih dalam keadaan baik. Namun, perubahan kualitas diduga terjadi setelah proses distribusi.
“Saat dipindahkan ke wadah distribusi masih bagus, tetapi ketika sampai di lokasi, ada yang hampir basi. Waktu saya cek langsung di sekolah, memang kondisinya demikian,” ungkapnya.
Ia menduga persoalan tersebut berkaitan dengan faktor teknis, seperti suhu penyimpanan, metode pengemasan, atau proses pendinginan yang belum optimal. Kendati demikian, pihaknya belum dapat memastikan penyebab utama secara pasti.
Untuk komponen lainnya, Diaz memastikan lauk dan sayuran masih dalam kondisi layak konsumsi. Adapun telur, menurutnya tidak basi, namun memiliki aroma yang cukup menyengat sehingga kurang diminati siswa.
Atas kejadian ini, pihak SPPG menyampaikan permohonan maaf kepada siswa dan masyarakat. Evaluasi internal, lanjut Diaz, akan dilakukan secara berkala guna memastikan kualitas makanan tetap terjaga.
Di sisi lain, kritik datang dari Aktivis Pembela Rakyat, Achmad Zainuddin. Ia mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja seluruh pegawai di lingkungan SPPG Yayasan Rizqi Haqiqi.
Menurutnya, insiden tersebut mengindikasikan adanya kelalaian dalam pelaksanaan teknis serta lemahnya fungsi pengawasan, termasuk dari tenaga ahli gizi dan pimpinan.
“Perlu evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya standar keamanan pangan dalam program distribusi makanan, khususnya yang menyasar pelajar sebagai kelompok rentan. (*)



