Peka Aksara

Disini, aku pulang

Perjalanan Gunung Batu Jonggol

Sebuah perjalanan yang cukup mengejutkan, karena awalnya untuk hiking aku sudah merasa pupus. Selain memang jarang ada teman dekat yang mau diajak, pengalamanku yang sedikit juga menjadi bahan pertimbangan.

Tapi akhirnya setelah sekian lama aku bisa kembali mencicipi perjalanan. Diluar perjalanan keliling kota atau daerah yang bisa aku lakukan sendiri. Mengingat perjalanan hiking tidak semudah melakukan perjalanan kota, jadi jangan pernah mencoba solo hiking yaa.

Karena pentingnya hiking justru adalah perjalanan bersama atau tim. Karena rasanya ndak mungkin kesasar di hutan sendiri, pingsan sendiri, lapar sendiri, kan malah membahayakan. Meski itu sempat terlintas di rencana bodohku sebelumnya.

Perjalanan

Karena ada kerabat baru yang tengah patah hati, ia yang sebelumnya sering berbagi soal petualangan dan ternyata punya kegemaran yang sama, pun akhirnya aku diajak menuju ke Gunung Batu untuk pendakian singkat.

Aku berangkat dari Depok sekitar pukul 8 pagi. Sudah terbilang kesiangan sebenarnya, karena saat sampai puncak, matahari sedang senang-senangnya. Memakan waktu sekitar 2 jam karena nyasar, mungkin lebih karena mendadak sinyal hilang dan kita perlu menanyakan warga sekitar untuk menuju Gunung Batu.

Soal bercerita, aku memang sering kali melayani beberapa sahabat yang sedang kalut, sebenarnya tanpa mereka tau, aku sedang belajar, belajar untuk menjadi manusia untuk orang lain dan belajar untuk menghadapi sebuah masalah jika suatu hari mungkin aku merasakan hal yang sama dengan mereka.

Persiapan

Secara pribadi aku tidak menyiapkan banyak hal karena aku rasa ini pendakian satu hari jadi tidak perlu membawa banyak barang ke dalam ransel. Namun karena kawanku adalah seorang Ketua Mapala, jadi dia yang malah menyiapkan banyak persiapan pendakian yang ternyata sangat dibutuhkan.

Intinya, jangan meremehkan perjalanan. Karena pada akhirnya orang yang kayak aku ini malah akan menyulitkan orang lain. Karena udah sesak banget napasnya, akhirnya aku dipinjemin tongkat mendaki yang ternyata masyaAllah sangat membantu.

Pendakian

Gunung Batu adalah salah satu gunung yang cocok untuk para pendaki pemula atau yang ingin mendaki namun tidak bisa ambil libur panjang. Sehari, Gunung Batu bisa dicapai dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam dalam langkah normal dan tidak banyak istirahat.

Karena kami mungkin sudah lama tidak mendaki, jadi saat perjalanan yang mungkin baru 15 – 20 menit, jantung dan napas mulai tidak beraturan, bahkan teman mendaki merasa mual dan pucat.

Sebenernya aku ini ngapain sih?

Batin

Sempat terlintas pertanyaan seperti itu, karena begitu lelah dan melihat jalur pendakian benar-benar melelahkan. Cuaca cerah, namun jalur terus menaik, bahkan ada beberapa jalur yang memaksa kita untuk memanjat dengan tali yang sudah disediakan disana.

Sudah kadung jalan, kami pun memutuskan untuk terus naik. Ada rasa malu kalau sudah datang namun tidak sampai ke tujuan. Jadi, saat pendakian kita pun cukup banyak istirahat sambil berbincang singkat dengan pendaki yang sudah turun.

Jalur Gunung Batu

Gunung Batu Jonggol

Bagi yang akan kesana, silahkan persiapkan diri untuk jalur-jalur yang mungkin akan menghabiskan banyak energi. Karena disana banyak setapak berbatu, tanjakan yang curam, sampai harus siap merayap hanya dengan berpegang tali yang tersedia.

Pastikan batu yang diinjak untuk tumpuan adalah batu yang menempel ada gunung, karena beberapa kali aku menemukan dan mencoba berdiri di batu yang ternyata malah bisa menimbulkan potensi berbahaya. Seperti jatuh atau terpeleset.

Begitu pula saat turun, disana benar-benar ndak ada pengaman, jadi perhatikan langkah dan titik tumpuan. Untuk tali yang tersedia sudah cukup aman dan menyelematkan, namun kalau aku pribadi menggunakan tali hanya ketika jalur pendakian sudah perlu memanjat, sisanya aku lebih suka berpegang pada pohon atau batu-batu disana.

Perjalanan Pulang

Tuhan itu Baik banget! Aku pernah minta mau ujan-ujanan di saat perjalanan atau pendakian. Pengin tau aja sensasinya itu kayak apa, dan hujan pun turun, aku senang bukan main meski tetap harus pakai jas hujan.

Jadi, kita merasakan sensasi perjalanan yang berbeda saat naik maupun turun di Gunung Batu. Jujur, aku paling suka saat perjalanan bersama hujan, meski perlu kepeleset berkali-kali, tapi aku senang bukan kepalang.

Sempet mau nangis, tapi bukan karena capek dan kotor, tapi karena merasa ternyata diri ini belum sekuat yang aku mau. Raga ini masih belum bisa bertahan dan tangguh seperti yang aku mau. Aku masih jatuh dan kadang menyulitkan orang lain. Tapi, Alhamdulillah itulah pentingnya teman perjalanan.

Meski sudah membahas perjalanan pulang, masih ada kisah yang ingin aku bagikan di Gunung Batu yang nanti akan aku tulis secara terpisah. Sudi menanti? Heuheu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *