Peka Aksara

Disini, aku pulang

Sexy Killers – Mengetuk Hati Membakar Emosi

Sebuah film dokumenter yang akhirnya mengundang emosi bagi para penontonnya. Namun tidak sedikit yang akhirnya membawa dirinya menjadi Golongan Putih (Golput) karena inti dari film dokumenter karya Watch Doc ini.

Terlepas dari apapun pembicaraan dan pemikiran orang-orang tentang Sexy Killers ini, aku pribadi sangat menyukainya. Karena memang aku pikir Sexy Killers ini bisa memberikan berita dari saudara-saudara kita di tanah air yang sama sekali tidak dibawa media kepada kita-kita yang melek teknologi disini.

Berita-berita warga yang kesulitan karena pembangunan tambang batu bara, berita tentang warga yang kekurangan air bersih, atau tentang rumah warga yang hancur dsb.

Seputar Film Sexy Killers

Dibuka dengan adegan sepasang suami istri yang sedang asyik berbulan madu dan menikmati penggunaan listrik di dalamnya. Penulis atau pembuat Sexy Killers ini patut diacungi banyak jempol dan tepuk tangan luar biasa, karena mampu membawa penontonnya dari emosi yang belum ada sampai pada tingkat menggebu-gebu yang luar biasa.

Sampai pada adegan selanjutnya membawa kita tentang apa yang membuat listrik bisa sampai ke kota-kota yakni tentang pembangunan batu bara hingga semua hal di balik pembangunan tersebut.

Emosi mulai bergejolak ketika Sexy Killers mulai mengekspos tentang warga-warga yang terkena imbas dari pembangunan tambang batu bara. Kolam-kolam bekas kerukan luasnya terus bertambah, sehingga menelan banyak korban jiwa, terutama anak-anak yang hilang dan meninggal dunia, karena lokasi sekolah dekat dengan kolam-kolam tersebut.

Emosi semakin tersulut ketika mendengar tanggapan dari Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor yang memberi pernyataan seolah tidak perduli dengan banyaknya korban jiwa pada lokasi galian tambang batu bara.

Ya namanya nasibnya meninggalnya di kolam tambang.

Isran Noor, Gubernur Kalimantan Timur

Kemudian kita juga akan dibawa Sexy Killers pada bagian warga yang menyatakan penolakan pembangunan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang banyak diakui warga mengancam punahnya Indonesia dan penduduk di dalamnya.

Cerita warga secara tidak langsung akan berhasil membuat kita yang menyaksikan tersentuh dan mungkin turur menangisi keadaan Indonesia yang diekspos oleh Sexy Killers ini.

Sejak ada pembangunan batu bara rakyat kecil jadi sengsara, yang enak ya rakyat besar. Nah kalau kita apa? Terima imbasnya, lumpur.

Warga

Usai mengoyak-ngoyak emosi, Sexy Killers memberikan waktu rehat dengan memberikan gambaran keindahan Indonesia dari laut dan pemandangannya yang memang indah, namun emosi kita akan kembali dikoyak setelah membahas tongkang-tongkang yang melakukan parkir liar.

Tidak hanya perihal batu bara dan PLTU, tongkang-tongkang yang lalu lalang di laut pun menjadi salah satu bagian yang membangkitkan emosi kita yang menyaksikannya. Tongkang yang melakukan parkir liar dan menurunkan jangkarnya, tidak sedikit yang akhirnya merusak karang dan kehidupan laut di dalamnya.

Begitu pula pada bagian warga Bali yang berusaha untuk mengurangi penggunaan listrik dengan energi matahari. Dan ini lah garis besar yang sebenarnya aku ambil dari film Sexy Killers ini.

Dan bagian mana yang pada akhirnya membuat penonton sebagian besar menjadi Golput? Pada bagian dimana Sexy Killers menjabarkan koneksi para petinggi negara termasuk kedua paslon Pemilu 2019 yang berpengaruh terhadap pembangunan batu bara dan terlantarnya penduduk daerah tersebut hingga memakan korban jiwa.

Namun, sangat disayangkan Watch Doc tidak memberikan sumber (source) dari hubungan atau koneksi yang dijelaskan pada film tersebut. Meski sebenarnya masih banyak sih pertanyaan di kepalaku yang muatannya tak seberapa ini.

Apakah Kita Juga Salah?

Ketika ada sesuatu yang bergejolak pada perasaan, kenapa ya manusia selalu ingin menyalahkan?

Terlepas dari siapa yang salah, yang sekarang hanya bisa dilakukan bukankah hanya bergerak untuk melakukan perubahan? Langkah kecil misalnya, menghemat listrik dan menjaga lingkungan?

Atau bergerak bersama untuk membuat langkah besar untuk mereka yang kesulitan disana? Dalam hal pendidikan, pengobatan, atau hal lainnya?

Apa Peran Kita?

Aku rasa menjadi Golongan Putih (Golput) bukanlah pilihan terbaik. Manusia sudah diciptakan dengan posisi dan perannya masing-masing. Begitu pula kita sebagai penduduk di Indonesia. Sexy Killers membawaku berpikir bahwa aku harus mengembangkan diri pada posisi dan peranku sebagai warga biasa, yakni melakukan yang terbaik di lingkungan sekitar.

Pada nyatanya, warga atau rakyat memiliki kekuatan lebih besar dari siapapun di pemerintahan. Namun pertanyaannya adalah, apa yang seharusnya dilakukan dengan posisi dan peran yang tengah kita jabat sekarang ini?

Memutuskan untuk tidak memilih adalah sebuah kesalahan dan peluang besar untuk kehancuran di masa yang akan datang. Maka, jika memang setelah menyaksikan Sexy Killers ini merasa tidak punya pilihan diantara kedua paslon, cobalah untuk memilih yang mungkin keburukannya lebih sedikit dibandingkan yang lainnya.

Jika tidak memilih, bukankah kita malah membuka peluang kecurangan untuk mereka yang akan membuat kehancuran?

Kehadiran Sexy Killers

Menurut berita yang beredar, saham milik LBP (Luhut) turun hingga 44%. Ternyata sebesar itu pula dampaknya. Kumparan memberikan judul, Sexy Killers, Menerangi Sambil Meracuni membuatku mengangguk-angguk setuju sendiri bahwa, ya memang benar.

Karena itu semua kembali kepada bagaimana penonton menyikapinya. Aku ndak tau mana sebenarnya menerangi atau meracuni. Tapi buat aku pribadi, Sexy Killers hadir untuk membangunkan kita-kita yang sudah lama tertidur dan membiarkan para Sexy Killers itu berkeliaran bebas.

Dan seharusnya, dokumenter ini bisa membuat siapapun menjadi rakyat yang lebih perduli dengan rakyat lainnya. Manusia yang bisa memanusiakan manusia lainnya, bisa mengenyangkan perut manusia lain tidak hanya perut sendiri.

Jadi, jika memang film ini bisa menyatukan kembali kita-kita yang egois akan hidupnya sendiri, kenapa enggak untuk diapresiasi? Toh rasanya aku juga jarang melihat berita-berita selengkap ini mengisahkan kehidupan di pulau lain di Indonesia? Yang sampai malah berita-berita selebriti penuh drama dan endorse dimana-mana.

Apa aku akan memilih untuk tidak memilih? (Golput)

Awalnya sempet kepikiran untuk itu. Apalagi aku cukup menaruh perhatian pada tragedi ’98 dan merasa menyayangkan malah lebih banyak TKA (Tenaga Kerja Asing) yang bekerja disini.

Dan aku merasa tidak punya pilihan dan alasan untuk memilih. Bahkan sampai sekeluarga kerepotan kasih aku alasan kenapa aku harus memilih. Ya, tetep aja belum ada yang membuatku puas.

Tapi, terlepas dari itu semua aku ndak mau jadi rakyat yang menyia-nyiakan kekuatanku lewat hak pilih. Apapun yang akan terjadi di masa depan, bukankah sebenarnya semua kembali kepada kita? Karena memang sebenar-benarnya kita lah yang bertanggung jawab.

Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat

Demokrasi

Jadi, gimana menurut kalian tentang si Sexy Killers yang sedang viral ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *