Peka Aksara

Disini, aku pulang

Sok Peduli Bumi dan Benci Plastik

Siapa bilang jadi baik mudah? Kalau jadi mudah, tidak akan ada aturan dalam sebuah kitab bagaimana dan hal-hal apa saja yang harus dilakukan jika harus menjadi baik.

Itu pula kenapa banyak larangan menjadi jahat, karena sebegitu mudahnya memang menjadi jahat, bahkan ketika terlihat baik.

Menyibukkan diri dengan meminimalisir penggunaan plastik nyatanya tak semudah itu. Bahkan untuk memimpin diri sendiri rasanya masih sulit, namun melihat makhluk lain harus menanggung semua kenikmatan pengguna plastik rasanya sangat tidak adil.

Kenapa Plastik?

Karena sepertinya ini adalah langkah sederhana yang masih bisa dijangkau untuk aku yang masih jauh berada di level bawah untuk sebuah penggagas. Punya perasaan yang cukup sensitif dan mudah menangis meski hanya melihat ikan kecil yang terperangkap di plastik itulah yang membuatku sekarang berusaha keras untuk mengajak beberapa orang di sekitarku untuk mengurangi penggunaan plastik

Mengingatkan untuk membuangnya kepada tempatnya dan memberi sedikit cerita tentang hewan-hewan yang tersiksa menanggung ‘Keenakan’ kita karena plastik selama ini.

Bagaimana Memulai?

Harus punya alasan kuat untuk meminimalisir penggunaan plastik. Jika tidak ada alasan kuat untuk itu, langkah akan berhenti bahkan ketika masih jauh dari garis finish.

Aku? Aku yang terlalu sensitif inilah yang menjadi alasanku. Aku merasa semua makhluk Tuhan di bumi ini berhak untuk hidup sehat dan nyaman di bumi. Manusia memang yang paling kuat, tapi kalau untuk jadi jahat, bukankah sia-sia?

Bukan berarti aku sudah memulai langkah besar. Aku masih baby step untuk memperjuangkan ini, aku memulai dari lingkungan sekitarku saja rasanya sulit untuk mencapai level baru. Aku yang ‘Bukan siapa-siapa’ memang tidak memiliki alasan untuk didengarkan, namun setidaknya aku harap niatku terngiang-ngiang dalam ingatan mereka.

Pernah Ingin Berhenti

Tentu, namun aku bersyukur aku mengikuti orang-orang yang juga peduli dengan bumi, sehingga perasaan itu terus tumbuh dan tidak lagi punya alasan untuk berhenti.

Kenapa? Karena jawaban beberapa orang yang menyepelekan dampak plastik dan selalu menganggap omonganku adalah lelucon semata. Tapi, aku yang sedang belajar ilmu Egois dan Masa Bodo ini, maka ini adalah salah satu ujianku.

Aku memang egois, karena aku hanya ingin anak cucuku kelak bisa hidup dengan baik. Karena itu aku mempengaruhi mereka agar keegoisanku mampu terwujud, keegoisan yang akhirnya juga menguntungkan mereka.

Mulai dari Berbagi

Tidak perlu merasa kesulitan, jika sudah punya alasan untuk melakukannya pada diri sendiri, mulailah dengan berbagi informasi. Beberapa waktu lalu aku membagikan sedotan stainles untuk beberapa orang sekitar, sebagai bentuk dari keegoisan dan masa bodoku akan mereka yang masih belum mau peduli.

Jadi, kalau aku memang sok peduli bumi dan benci plastik, mau apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *