Peka Aksara

Disini, aku pulang

Semangat Sinar Matari

Pakaiannya tidak rapih, bahkan mereka hanya menggunakan kaos seadanya dengan keringat yang akhirnya membentuk di punggung dan ketiaknya. Dibawah terik matahari, mereka masih sudi bekerja.

Tidak peduli dengan membersihkan diri, tak peduli dengan wewangian untuk tubuhnya. Yang mereka peduli hanya bagaimana pekerjaan mereka lekas rampung sebelum matahari kembali pulang.

Tubuhnya berwarna coklat mengkilap, kakinya kokoh menopang, tangannya bergerak melempar setiap benda persegi berat berwarna oranye ke kawannya yang berdiri lebih tinggi darinya.

Matahari bersinar cerah seakan mendukung mereka untuk menyelesaikan tembok-tembok untuk segera berdiri utuh. Kepalanya yang dibalut kain sebenarnya adalah tanda menolak dukungan matahari yang sedang cerah.

Di balik jendela, seorang lain dengan kemeja dan terduduk di atas kursi empuk memandang pekerja itu dengan tatapan kosong. Otaknya bekerja, kemudian hati menerjemahkannya bahwa ia harus lebih bersyukur dari apa yang tengah ia pandang di depannya hari itu.

Ia masih bekerja di gedung tanpa khawatir akan semangat matahari yang cerah. Ia masih duduk manis diatas kursi empuk, dan tidak perlu mengangkat beban berat yang membuat tangannya kesakitan, meski pikiran dan rasa takutnya melebihi mereka yang kini tengah melempar semen ke arah dinding.

Dalam lamunan, ia yang duduk di kursi putar itu berpikir. Betapa beruntungnya ia ketika beberapa menit lalu ia merasa menjadi orang yang sangat tidak beruntung.

Pekerjaannya menuntutnya untuk selesai namun ia masih mampu mengerjakannya di tempat yang cukup nyaman, bahkan tidak beresiko besar untuk jatuh dan meninggal dunia.

Setidaknya, pekerjaannya tidak memperteruhkan keselamatan dirinya. Ada rasa malu yang meluruh dalam dadanya, malu karena kurangnya rasa syukur dan terus menerus merasa paling tidak beruntung.

Ada rasa malu, padahal mampu namun sesekali tumbuh rasa ingin menyerah dan marah pada keadaan. Kini ia berpikir kembali dalam lamunan, sebenarnya siapa yang lebih pantas untuk mengeluh? Dirinya? Atau orang-orang yang sedang ia lihat di balik jendela besar tempat kerjanya?

Sejatinya memang benar, manusia perlu melihat kebawah untuk bersyukur dan belajar untuk lebih tau diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *