Peka Aksara

Disini, aku pulang

Aku dan Perahu Rakit

Aku dulu punya perahu rakit, sampai akhirnya ia hancur berkeping-keping dan meninggalkanku tenggelam di tengah lautan yang asing hingga hampir mati.

Tapi semesta masih baik, ia membiarkan tubuhku yang ringan menepi di sebuah pulau sepi tanpa penghuni. Aku, sendiri dan terlalu takut untuk sekedar kembali bersalaman dengan ombak kecil.

Ombak itu pernah menghancurkan aku dan perahu rakitku yang tengah menikmati udara sejuk, melihat fajar dan senja bergantian menunjukkan keindahannya hingga ketika aku bersandar pada perahu rakitku.

Hancur dan tak satu pun puing perahu rakitku mampu menyelematkanku untuk tidak tenggelam, aku merasa gagal hingga terlalu takut untuk kembali merakit.

Waktu berlalu dengan begitu sabar, menemaniku di pulau tak berpenghuni. Sesekali fajar dan senja mampir menanya kabar, bagaimana aku tanpa perahu rakitku? Katanya.

Aku hanya tersenyum, ada rasa sakit ketika mengingat perahu rakitku hancur dan tak lagi mampu membawaku berlayar. Sesekali mereka juga bertanya, apa aku tidak rindu untuk kembali bertualang? Apa aku tidak rindu mengarungi samudera?

Aku bahkan terlalu takut untuk merakit kembali perahuku. Aku takut ia tidak setangguh yang aku mau, aku takut ia hancur dan membuatku kembali tenggelam. Kau tau? Merakit butuh waktu, waktu yang tidak sedikit, sakit sekali rasanya jika harus kembali menyaksikan perahu rakitku hancur.

Waktu yang sabar kini mulai berbicara,

Bagaimana kau tau perahu rakitmu akan hancur lagi jika kau bahkan tidak terbangun untuk merancang dan berpikir bagaimana perahu rakitmu lebih tangguh dari sebelumnya? Pikiranmu hanya rasa takut, kau begitu egois!

Tidak kupungkiri, aku memang rindu untuk mengarungi samudera, aku rindu lihat fajar dan senja dari tempat yang berbeda, aku rindu berdiri di perahu rakitku dan membiarkan udara membelai tubuhku dengan begitu syahdu. Aku rindu, namun rasa takutku masih jauh lebih besar.

Waktu benar, aku egois untuk melindungi diri dan membiarkannya tidak bergerak bahkan untuk sekadar mendapat bahagia baru. Apakah aku harus merakit perahuku sekarang?

Sambil merakit kembali, aku berpikir keras dimana letak kesalahan perahu rakitku di masa lalu, aku memaksa memoriku untuk mengingat, aku memaksa memeriksa setiap detail perjalananku dan proses pembuatan perahu rakitku di masa lalu.

Nyatanya satu yang tak terlihat, aku tak pernah melibatkan Tuhan dalam proses pembuatan perahu rakitku yang lalu. Aku tak pernah memohon pada Tuhan untuk merasuk ke setiap serat-serat perahu rakitku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *