Peka Aksara

Disini, aku pulang

There is No Mental Illness

Sebenarnya aku ndak pernah percaya tentang ini, namun beberapa waktu lalu, Mental Illness seakan menjadi sebuah tren disaat beberapa influencer mengaku menderita hal tersebut.

Sehingga beberapa orang menanggapi kesedihan dan penderitaan adalah Mental Illness dan hal tersebut sebenarnya perlu diluruskan. Meski pengetahuan dasar tentang Mental Illness itu penting, namun aku rasa seharusnya keterangan tersebut punya tempat yang lebih layak untuk dibagikan.

Very human ketika setiap manusia merasa sedih, terpuruk atau berada di posisi terburuk. Tapi aku pribadi ndak percaya hal tersebut adalah Mental Illness aku mencoba untuk tidak percaya gangguan satu ini, karena buat aku malah akan terasa semakin buruk.

Aku mencoba menanamkan bahwa perasaan buruk adalah hal yang wajar dan pasti dialami oleh manusia paling hepi sekalipun. Hanya yang membedakan, bagaimana cara kita untuk mengatasi hal tersebut.

Tapi aku rasa itulah kenapa manusia harus punya agama dan Allah sebagai pedoman, karena sesungguhnya manusia lemah karena memang kehilangan pegangan dalam perjalanannya. Aku yakin, dalam agama apapun sebenarnya ketidak tenangan tersebut timbul karena kita beranjak jauh dari Allah.

Seperti ketika aku merasa lelah, aku selalu coba cari tau kenapa semua jadi rumit, kenapa semua yang biasa aku jalanin malah terasa menyedihkan, kenapa hal yang seharusnya biasa malah menjadi begitu sulit, kenapa hal yang seharusnya tidak perlu dikhawatirkan, ditakuti begitu besar?

Dan aku menemukan jawabannya,

Karena aku terlalu sibuk dengan itu, tidak membagikan kesulitanku, bebanku, sedihku kepada Allah yang punya wadah lebih besar dibanding wadahku, dibanding kemampuanku. Karena aku terlalu sombong, karena aku merasa mampu padahal tidak

kata hatiku, kemarin

Aku suka berdiskusi dengan diriku sendiri meski sebenarnya, aku tau terkadang itu bukan jalan yang terbaik. Tapi, aku percaya, lewat hati dan pikiran Allah sedang berbisik, Allah sedang bekerja membantuku, Allah sedang ingin aku mendengarkan-Nya.

Aku tau, ada beberapa orang yang bilang “Ah ujung-ujungnya soal agama.” tapi itu benar adanya, kemanapun manusia berlari mencoba mencari tenang, hasilnya pasti hanya akan bekerja dalam waktu begitu singkat.

Aku pernah, aku sempat mencari jalan lain. Mendengar podcast, membaca blog, bersenang-senang dengan orang-orang, meditasi, atau apapun yang katanya mampu mengusir cemas. Tapi, tidak ada yang bekerja dengan baik, selain ketika aku bersujud dan meminta tolong, agar Allah mau menerima setidaknya sedikit dari beban yang kurasa sudah terlalu berat.

Tapi, aku tidak mau mengeluh, meski sebenarnya aku benar ingin mengeluh. Hanya kalau mengeluh aku malu sama Allah, malu sama apa yang sudah banyak dikasih.

Jadi, aku memutuskan mengganti keluhku dengan ucapan terima kasih untuk setiap lelah dan sedih. Aku jadi tau betapa pentingnya pelukan Allah, betapa pentingnya keningku pulang dalam sujud.

Allah, maaf jika aku terlalu sibuk mencari cara lain mengusir bebanku, padahal Kau adalah tempat terbaik untuk aku meminta tolong.

kata hati, hari ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *