Peka Aksara

Disini, aku pulang

Rindu Diri Sendiri

Beberapa waktu belakangan ini saya seperti kehilangan siapa diri saya sebenarnya. Entah karena memang sudah seharusnya berubah, entah memang karena dipaksa untuk berubah.

Berubah sejatinya bukan hal yang buruk, namun terasa begitu buruk ketika lingkungan sekitar menilai kita bukanlah lagi kita yang mereka kenal. Padahal tanpa disadari, semuanya perlu berubah.

Contoh kecil, saya tidak pernah menyukai kopi sebelumnya. Bahkan kopi yang sudah manis pun bermain di kepala saya tetap punya rasa yang pahit dan tidak nikmat. Tidak seperti teh yang bisa menyulap suasana hati saya menjadi lebih baik.

Tapi seiring waktu berjalan kopi menjadi sahabat yang tak pernah saya duga sebelumnya. Pada akhirnya, pekerjaan yang menumpuk, yang menyita waktu, mengenalkanku pada kopi yang akhirnya sangat membantu.

Tidak hanya itu, setelah menyepi kemari buku-buku juga seakan bicara dan menuntut untuk punya teman baru. Ternyata sudah lama juga aku tidak mengadopsi buku lain untuk menjadi teman rak mereka, membaca pun terasa sempit waktunya.

Aku menua atau memang waktu yang mulai terburu-buru? Aku merasa tidak lagi menikmati hidupku dengan baik seperti sebelumnya. Namun di sisi lain saya sangat bersyukur untuk segala hal.

Sepertinya memang ada yang harus diulang. Sekarang, hati menuntut…


Kapan kamu mau solo traveling lagi?

batin

Aku rindu minum teh dengan madu setiap hari, bukan kopi di kedai kopi.

Aku rindu baca buku di perjalanan dan tempat sunyi, bukan cek email dan memastikan pekerjaan sempurna

Aku rindu pergi sendirian ke toko buku dan duduk di sudut, bukan pulang larut dan mengirim email lembur

Aku rindu solo traveling dan bertemu dengan kawan baru, bukan pergi bertemu dengan orang kantoran lain dan bicara bisnis

Aku rindu, tapi Tuhan, dari dasar hatiku aku amat bersyukur.


















Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *