SUMENEP, pekaaksara.com – Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menerbitkan SE (surat edaran) Nomor 3/2024 tentang memperingati bulan Bung Karno atau Ir. Soekarno presiden pertama Relublik Indonesia.
Budayawan Sumenep Ibnu Hajar menilai bahwa, langkah orang nomor satu di lingkungan Pemkab Sumenep itu tepat. Sebab, sebagai cara sedang memasyarakatkan simbol kebudayaan Nusantara.
Menurut pria berkacamata itu, simbol kebudayaan itu memainkan peran penting dalam kehidupan religius manusia karena bisa membawa makna lebih dalam dari pengetahuan sehari-sehari.
“Peci itu bukan hanya pada urusan reigius saja, tetapi juga sebagai simbol kebudayaan,” kata Ibnu Hajar, Jumat (31/5/2024).
Kebudayaan itu sendiri sebuah pola dari makna-makna yang tertuang dalam simbol yang diwariskan melalui sejarah. Dan peci sendiri termasuk sejarah yang sudah ada sejak Bung Karno.
Bung Karno selalu mengenakan peci hitam yang saat ini dikenal dengan sebutan songkok nasional setiap melaksanakan tugasnya baik di dalam maupun luar negri.
“Nah, Bupati Sumenep ingin mengingatkan sejarah serta peran indonesia. Ketika ke luar negri misalnya, melihat orang berpeci akan teringat negara kita ini,” ujar Ibnu sapaan akrabnya.
Dirinya mengaku sangat bangga dan menyambut baik cara Bupati Sumenep dalam mengingatkan sejarah yang telah dicetuskan Bapak Proklamator kepada masyarakat di kota keris ini.
Ibnu Hajar mengakui bahwa Soekarno merupakan tokoh proklamator hebat yang telah mampu mengenalkan negaranya ke dunia.
Buktinya, di beberapa negara ada yang mengabadikan Soekarno dengan beragam bentuk. Di Kuba, sampai-sampai menerbitkan peranko 1.000 Bung Karno dicetak tahun 2008.
Kemudian, Rusia ada Masjid biru bernama Soekarno, di Al Jazair ada monumen sedangkan di Mexico ada taman yang dinamai Soekarno, termasuk jalan-jalan di Mesir dan Turki.
Apalagi saat ini musim haji, orang yang melakukan wuquf di Arafah akan menjumpai sebuah tanaman yang bernama Mimba. Ketika Jemaah melihat itu akan teringat Soekarno sebagai orang pertama yang menanamnya.
“Tanaman itu sekarang tetap terawat. Itulah kehebatan bung karno, dimana-mana namanya hingga perjuangannya abadi,” tukas Ibnu Hajar (*)