SUMENEP, pekaaksara.com — Program bertajuk “Sumenep Menyapa” justru memantik kritik tajam dari kalangan pemerhati budaya.
Pasalnya, dalam kegiatan yang mengangkat tema keris Sumenep tersebut, benda pusaka yang ditampilkan justru dinilai tidak merepresentasikan identitas keris Sumenep, melainkan keris gaya Surakarta (Solo) dengan jenis warangka Ladrang.
Kekeliruan ini dinilai sebagai salah kaprah serius dalam pemahaman dan penyajian warisan budaya, terlebih keris merupakan artefak adiluhung yang memiliki pakem, identitas wilayah, serta filosofi yang jelas dan tidak bisa disamakan antar daerah.
Helmi, pemilik Helmi Art Museum yang juga dikenal sebagai kurator keris Sumenep, menegaskan bahwa warangka Ladrang merupakan ciri khas keris Surakarta dan tidak lazim digunakan dalam tradisi keris Sumenep.
“Kalau bicara keris Sumenep, tentu ada pakem dan karakter tersendiri. Warangka Ladrang itu jelas gaya Surakarta. Ketika itu ditampilkan dalam konteks keris Sumenep, maka di situlah letak salah kaprahnya,” ujar Helmi saat dimintai keterangan.
Menurutnya, kesalahan semacam ini tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi menyesatkan publik, khususnya generasi muda, dalam memahami identitas budaya Madura, khususnya Sumenep yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi perkerisan.
“Ini bukan sekadar soal bentuk, tapi soal identitas. Keris adalah simbol budaya, dan setiap daerah punya ciri yang tidak bisa ditukar-tukar,” tegasnya.
Helmi menambahkan, penyajian keris yang keliru dalam ruang publik, apalagi dalam acara yang membawa nama daerah, justru mencederai upaya pelestarian budaya itu sendiri.
Kritik ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pengemasan acara budaya tidak cukup hanya bersandar pada nama besar atau kemasan seremonial, tetapi harus dilandasi pemahaman mendalam dan tanggung jawab sejarah (*)


