BOGOR, pekaaksara.com – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menegaskan bahwa nasionalisme di abad ke-21 harus diwujudkan melalui penguatan ketahanan pangan, kemandirian energi, serta penguasaan teknologi agar Indonesia mampu menjadi bangsa yang kuat dan berdaya saing di tengah dinamika global.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menjadi keynote speaker pada Pembukaan Diklat Pratama se-Indonesia Angkatan I yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Pelajar Kebangsaan (DPP GMPK) di Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/7).
“Tujuan nasionalisme adalah menjadikan kita bangsa yang kuat. Namun, kalau kita tidak memahami seperti apa bangsa yang kuat, kita akan keliru mendefinisikan format nasionalisme yang ingin kita bangun,” ujar Nusron.
Dalam pemaparannya yang bertajuk Nasionalisme Abad ke-21: Menjawab Tantangan Radikalisme, Perang Ekonomi, dan Perebutan Pengaruh Global, Nusron menjelaskan bahwa kekuatan suatu negara saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh sistem pemerintahannya, tetapi juga oleh kemampuannya menghadapi berbagai tantangan global.
Mengacu pada teori John Mearsheimer, ia menyebut terdapat tiga pilar utama yang harus diperkuat untuk membangun negara yang tangguh, yakni ketahanan pangan, kemandirian energi, dan penguasaan teknologi.
“Jangan hanya berbicara nasionalisme, tetapi bangun ketahanan pangan, kemandirian energi, dan kemampuan menguasai teknologi. Tanpa itu, bangsa akan mudah bergantung kepada negara lain,” tegasnya.
Menurut Nusron, ketiga pilar tersebut hanya dapat diwujudkan melalui pembangunan sumber daya manusia yang unggul. Oleh karena itu, semangat nasionalisme harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas intelektual generasi muda.
Di hadapan sekitar 200 peserta diklat, Nusron berpesan agar mahasiswa terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memperkuat wawasan kebangsaan. Ia menilai mahasiswa memiliki peran strategis sebagai calon pemimpin yang akan menentukan arah pembangunan Indonesia di masa depan.
“Perubahan di dunia selalu didahului oleh kebangkitan kaum intelektualnya. Ketika cara berpikir mahasiswa sudah benar, maka saat mereka menjadi birokrat, politisi, pengusaha, maupun profesional, cara berpikir itu akan ikut membentuk kemajuan bangsa,” ujarnya.
Menutup paparannya, Nusron mengajak kader GMPK untuk terus meningkatkan kapasitas diri, tidak hanya dari sisi intelektual, tetapi juga dengan memperkuat semangat kebangsaan serta menghadirkan gagasan dan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
Turut hadir mendampingi Menteri ATR/Kepala BPN dalam kegiatan tersebut Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol, Achmad, serta Sekretaris Dewan Pembina DPP GMPK, H. Chusni Mubarok (*)



