SUMENEP, pekaaksara.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik.
Kali ini, keluhan datang dari penyajian menu di SPPG Yayasan Rizqi Haqiqi Campaka yang diduga belum memenuhi standar kelayakan konsumsi.
Sejumlah temuan di lapangan menunjukkan adanya bahan makanan yang diduga membusuk namun tetap masuk dalam proses penyajian.
Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat, terutama terkait kualitas dan keamanan makanan yang seharusnya mendukung kesehatan penerima manfaat program tersebut.
“Bagaimana bisa makanan yang belum layak konsumsi disajikan dalam program yang bertujuan meningkatkan gizi masyarakat?” ujar seorang Aktivis Pembela Rakyat, Ach. Zainuddin, Jumat (10/4/26) saat dimintai keterangan.
Sorotan tidak hanya tertuju pada pengelolaan dapur, tetapi juga pada peran tenaga ahli gizi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memastikan kualitas makanan.
Publik mempertanyakan apakah fungsi pengawasan dari ahli gizi telah berjalan optimal di setiap dapur SPPG.
Secara ideal, kata Zainuddin, kehadiran ahli gizi dalam program MBG bertujuan memastikan bahwa setiap menu yang disajikan memenuhi standar kebersihan, kandungan nutrisi, serta kelayakan konsumsi.
Namun, temuan di lapangan justru menunjukkan adanya celah dalam implementasi standar tersebut.
“Jika masih ditemukan makanan yang tidak memenuhi standar, maka perlu ada evaluasi menyeluruh. Bukan hanya pada bahan baku, tetapi juga sistem pengawasan dan tanggung jawab setiap pihak yang terlibat,” lanjutnya.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa program sebesar MBG membutuhkan pengawasan ketat dan profesionalisme tinggi.
Masyarakat berharap adanya perbaikan sistem, peningkatan kualitas kontrol, serta transparansi dalam pengelolaan agar tujuan utama program—meningkatkan gizi masyarakat—dapat benar-benar tercapai (*)



