SUMENEP, pekaaksara.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep menetapkan status siaga kekeringan seiring memasuki musim kemarau.
Menyikapi kondisi tersebut, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menegaskan bahwa sektor pertanian harus menjadi prioritas utama dalam langkah antisipasi pemerintah agar produktivitas petani tetap terjaga.
Bupati Fauzi meminta seluruh perangkat daerah terkait meningkatkan perhatian terhadap berbagai aspek penunjang pertanian, mulai dari hasil panen, ketersediaan sumber air, hingga keberlangsungan jaringan irigasi.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi kunci menjaga ketahanan pangan sekaligus melindungi kesejahteraan petani di tengah ancaman musim kemarau.
“Sektor pertanian harus benar-benar mendapatkan perhatian secara maksimal saat memasuki musim kemarau. Mulai dari hasil panen, ketersediaan air hingga irigasi harus menjadi fokus bersama agar produktivitas petani tetap terjaga,” tegas Bupati Fauzi, Kamis (9/7/2026).
Ia menegaskan, sektor pertanian merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat Sumenep karena menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar penduduk.
Oleh sebab itu, pemerintah daerah berkomitmen memberikan dukungan secara berkelanjutan agar aktivitas pertanian tetap berjalan optimal.
Kabupaten Sumenep, lanjut Bupati, memiliki potensi pertanian yang sangat besar dengan luas lahan pertanian mencapai lebih dari 103 ribu hektare.
Potensi tersebut didukung berbagai komoditas unggulan, seperti padi, jagung, kacang hijau, cabai merah besar, bawang merah, tomat, mentimun, hingga sektor peternakan yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat di berbagai wilayah.
“Kabupaten Sumenep dikaruniai potensi sumber daya alam yang sangat besar dengan wilayah lahan pertanian lebih dari 103 ribu hektare, didukung komoditas unggulan berupa padi, jagung, kacang hijau, cabai merah besar, bawang merah, tomat, mentimun, serta sektor peternakan,” ujarnya.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Chainur Rasyid, menyatakan pihaknya terus memperkuat berbagai program pendampingan kepada petani sekaligus memastikan dukungan sarana dan prasarana pertanian tetap tersedia.
Menurutnya, masyarakat Madura, khususnya Sumenep, memiliki keuntungan karena dua musim yang berlangsung setiap tahun sama-sama memberikan peluang bagi sektor pertanian.
“Musim hujan menjadi momentum peningkatan produksi tanaman pangan seperti padi dan jagung, sedangkan musim kemarau justru menjadi harapan bagi petani perkebunan, terutama tembakau yang merupakan komoditas unggulan masyarakat Madura,” ujarnya.
Ia menjelaskan, apabila musim kemarau berlangsung dengan baik, kualitas tembakau akan meningkat sehingga diharapkan mampu memberikan nilai jual yang lebih baik dan berdampak pada peningkatan pendapatan petani.
Untuk menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau, DKPP Sumenep terus mengoptimalkan berbagai program, mulai dari pengeboran sumber air, pemeliharaan jaringan irigasi, penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga pendampingan intensif oleh penyuluh pertanian di lapangan.
“Setiap hari para penyuluh melakukan pendampingan kepada petani, mulai dari pengolahan lahan, budidaya, edukasi, dukungan alsintan hingga penguatan infrastruktur irigasi. Semua dilakukan agar petani tetap produktif meski menghadapi musim kemarau,” jelas Chainur.
Melalui berbagai langkah tersebut, Pemkab Sumenep berharap musim kemarau tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga mampu dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan produktivitas, khususnya pada sektor perkebunan, sehingga kesejahteraan petani dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga (*)
