YOGYAKARTA, pekaaksara.com – Semangat untuk kembali dan membangun tanah kelahiran menjadi alasan kuat sejumlah generasi muda Papua memilih menempuh pendidikan di Politeknik Agraria STPN, perguruan tinggi kedinasan di bawah Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
Mereka ingin membekali diri dengan ilmu pertanahan dan tata ruang sebagai modal berkontribusi bagi pembangunan Papua.
Salah satu di antaranya adalah Alfando Almendo, Taruna Tingkat II asal Manokwari, Papua Barat. Menurutnya, Papua masih membutuhkan banyak sumber daya manusia yang memahami persoalan agraria untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
“Keinginan saya sederhana, yaitu kembali dan ikut membangun daerah asal. Papua masih membutuhkan banyak pembangunan dan tentu memerlukan SDM yang memahami bidang pertanahan dan tata ruang,” ujar Alfando, Kamis (18/6/26).
Ketertarikannya pada bidang agraria berangkat dari berbagai persoalan pertanahan yang masih kerap ditemui di Papua. Ia berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat menjadi bekal untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut ketika kembali ke kampung halaman.
Tak hanya mendapatkan pengetahuan akademik, Alfando juga mengaku memperoleh pengalaman berharga melalui sistem pendidikan berasrama yang diterapkan di Politeknik Agraria STPN. Menurutnya, lingkungan tersebut membentuk karakter, kedisiplinan, serta kemampuan kepemimpinan yang dibutuhkan dalam dunia kerja maupun pengabdian kepada masyarakat.
“Di sini kami belajar disiplin, kepemimpinan, dan hidup bersama teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia. Pengalaman ini menjadi modal penting untuk membangun kerja sama dan sinergi di masa depan,” katanya.
Semangat yang sama juga ditunjukkan Rafael Korwa, Taruna Tingkat II asal Merauke, Papua Selatan. Ketertarikannya terhadap peta sejak kecil membawanya mengenal dunia survei dan pertanahan. Namun selama menjalani pendidikan, ia menyadari bahwa bidang tersebut memiliki peran strategis dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
“Setelah mempelajari bidang pertanahan, saya memahami bahwa ilmu ini sangat penting, terutama untuk membantu menyelesaikan sengketa tanah yang masih sering terjadi di lingkungan masyarakat,” ungkap Rafael.
Ia menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami hak atas tanah dan aspek hukum pertanahan. Karena itu, kehadiran generasi muda yang memiliki kompetensi di bidang agraria menjadi kebutuhan penting, khususnya di wilayah dengan karakteristik pertanahan yang kompleks seperti Papua.
“Harapan saya setelah lulus adalah kembali ke daerah dan membagikan ilmu yang saya peroleh kepada masyarakat. Dengan begitu, masyarakat dapat lebih memahami hak-haknya dan tidak mudah dirugikan dalam urusan pertanahan,” tuturnya.
Bagi Alfando dan Rafael, pendidikan di Politeknik Agraria STPN bukan sekadar jalan untuk meraih gelar, tetapi juga sarana mempersiapkan diri menjadi bagian dari pembangunan daerah. Mereka berharap ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Papua melalui tata kelola pertanahan yang lebih baik dan berkeadilan (*)



